14/08/2026. Sepanjang sejarah manusia, pernikahan sepupu adalah praktik yang diterima secara luas dan bahkan didorong di banyak budaya. Praktik ini memiliki tujuan praktis. Secara politik, itu membantu menjalin aliansi antara keluarga berkuasa; secara ekonomi, itu menjaga kekayaan dan warisan tetap dalam lingkaran kepercayaan; dan secara sosial, menikahi sepupu sering berarti pemahaman dan kecocokan yang lebih mendalam. Dari keluarga kerajaan Eropa hingga komunitas pedesaan, pernikahan sepupu dianggap strategis dan stabil.
Namun, seiring kemajuan ilmu kedokteran dan genetika, kekhawatiran tentang potensi risiko kesehatan bagi keturunan membuat praktik ini menjadi sorotan. Saat ini, banyak masyarakat modern melarang atau menganjurkan agar tidak menikah dengan sepupu, meskipun praktik ini masih berlangsung di beberapa bagian dunia karena tradisi, agama, atau norma lokal.
Galeri ini mengeksplorasi negara-negara di mana pernikahan sepupu masih ada, mengungkap alasan budaya dan sejarah yang kompleks di balik keberlangsungannya. Mau tahu di mana praktik ini umum terjadi?
Pakistan, Kuwait, dan Qatar memiliki tingkat pernikahan sepupu (konsanguiline) tertinggi di dunia, dengan lebih dari 50% hingga 65% dari semua pernikahan terjadi antara kerabat darah.
Praktik ini juga tersebar luas di bagian lain Timur Tengah, Afrika Utara, dan Asia Selatan. Negara dengan Peringkat Tertinggi: Perkiraan persentase pernikahan yang melibatkan kerabat darah (sepupu kedua atau lebih dekat) antara lain:

- Pakistan: ~61% – 65%
- Kuwait: ~54,3%
- Qatar: ~54% U
- ni Emirat Arab: ~50,5%
- Sudan / Sudan Selatan: ~50%
- Afghanistan: ~49%
- Mauritania: ~47,2%
Source/Sumber MSN Versi Inggris


















Discussion about this post