Oleh : Jose Tacain – Edisi Time Timor September 2009
Politisi yang baik dan akhirnya terkenal, biasanya meniti karier politiknya melalui organisasi politik yang besar dan mempunyai nama. Dalam suatu kurun waktu yang lama, sang politikus akan belajar menimba pengalaman selama berada dalam organisasinya.

Tingkah laku dan kepribadiannya akan ditentukan oleh pengalaman berpolitiknya itu. Dan apabila
kepribadian politiknya telah dibentuk, maka tujuan politiknya akan diwarnai oleh tujuan organisasinya dalam mengabdi kepentingan rakyat, bangsa dan negara. Ini cita-cita utama setiap organisasi politik di mana pun ia hadir.
Sikap Politik
Pengalaman berpolitik menentukan sikap politik. Biasanya sikap politik seorang politisi, akan terbaca dengan jelas dalam hubungannya dengan kebijakan yang ingin dihasilkan atau sebuah keputusan yang ingin ditegakkan.
Misalnya sistem pendidikan nasional yang menguntungkan peserta didik atau malahan mematikan generasi baru yang ingin melanjutkan pendidikannya di luar daerah dan lain-lain. Atau isu-isu sosial lain yang berkaitan dengan undang- undang aborsi, pendidikan agama di sekolah-sekolah yang mendukung intervensi pemerintah dalam kehidupan pribadi dan lain-lain.
Apabila ia mencapai hal-hal ini, sang politisi telah memainkan nilai politik sambil belajar menjadi politikus yang matang dan dewasa.
Mengikuti perkembangan politisi di bumi Timor Lorosae kita terpesona. Dari hari ke hari boleh dikatakan para politikus kita telah berani memberikan pembelajaran dalam kancah perpolitikan Nasional kepada masyarakat. Tetapi ada satu catatan, hati-hati terhadap ‘permainan’
politik.
Game Politik
Dalam bukunya, Problema di Filosofia della Politica (1977), pemikir Dino Pasini, mengatakan bahwa politik bisa disebut sebagai permainan.
Politik adalah sebuah game. Secara positif, Pasini, mau mengartikulasikan bahwa game adalah melakukan sesuatu dengan tujuan tertentu.
Melakukan sesuatu dalam bentuk kegiatan ekstra yang sifatnya menyenangkan hati. Tetapi pada sisi lain, Pasini juga menunjukkan bahwa permainan memesan permainan memiliki aspek negatif:
Berputar, bergerak secara tak wajar, berbuat serong, menggunakan kuasa untuk meraup nafkah, terutama dalan game politik.
Di sini tujuan dari game menjadi kabur, hilang arah tan membawakan sesuatu yang menggembirakan bagi diri dan komunitas masyarakat . berarti permainan terkontaminasi oleh sistem yang mengbahayakan dan cenderung menjadi ancaman. Itulah politik sebagai permainan atau game.
Politik: Permainan Bisnis Kotor
Politic is power. Inti retorikanya menyangkut ‘kekuasaan’. Dengan kekuasaan orang dapat melakukan apa saja yang dikehendakinya. Menegaskan ide Pasini, seorang tokoh terkenal lain bernama Dom Helder Camara dari Amerika Latin, berpendapat bahwa politik sebagai game berjalan dalam teori “spiral kekerasan’. Bahwa di ujung game politik, hampir pasti ada tindak kekerasan. Sebab dalam game itu ada ancam-mengancam, sikut-menyikut, hantam-menghantam, tekan-menekan dan ‘makan-memakan’.
Kita semua sudah lama kenal anekdot ini:
‘Setiap pagi rakyat bertanya, hari ini makan apa?
Orang-orang kelas menengah ke atas bertanya, hari ini makan di mana?
Sedangkan para politikus bertanya, hari ini makan siapa?’ Game politik yang licik
pasti selalu memakan ‘korban’.
Tujuan dari permainan yang licik itu adalah meraup keuntungan bagi diri dan mencari dukungan untuk tetap bertengker di atas kursi di dalam kegiatan politik, keterlibatan, aksi atau daya upaya yang biasanya dibungkus rapih agar tidak kelihatan secara langsung. Lasswet (1936) menegaskan pendapat di atas dengan statement bahwa politik sebagai game, selalu dihubungkan dengan masyarakat sosial.
Ini berarti seni bermain politik permainan politik’ juga menyangkut duit -money mengendalikan dan memanipulasi tingkah laku manusia. Bahwa ada usaha mempengaruhi orang lain untuk bertindak atau berbuat sesuatu demi kepentingan tertentu tanpa memperhitungkan keadaan orang itu.
Di sini politik menjadi kotor, penuh tipu muslihat dan menghalalkan segala cara dengan tujuan utamanya: Kuasa untuk keuntungan diri sendiri. Pada hal para politikus sudah seharusnya
tahu bahwa berpolitik adalah suatu seni.
Sebagai seni, berpolitik memungkinkan orang untuk memenangkan kepentingan tertentu secara elegan. Tetapi karena keinginan memenangkan kepentingan tertentu itu justru diperuntukkan bagi diri sendiri, maka politik menjadi kotor dan buruk. Itu berarti politik terkungkung dalam lingkaran kekuasaan untuk menguasai orang lain demi kepentingan diri sendiri. Di sini politik melenceng dari tujuan luhurnya, yakni menghantar orang atau pribadi-pribadi yang berpolitik itu sampai pada tujuan mensejahterakan orang banyak, memakmurkan rakyat.
Politik: Kepedulian Pada Akar Rumput
Uskup Romero dari Colombia, yang mati ditembak karenkepeduliannya terhadap orang kecil,
pernah mengatakan: “Kalau anda bertanya padaku, mengapa Gereja berjuang melawan dosa, maka saya akan menjawab, dewa kekuasaan sudah terlalu dipuja-puji dan kita mempunya itikad politis untuk menghapus dosa yang satu ini. Uang dan modal dituntut secara egoistis demi kepentingan diri dan para penguasa dan politisi telah mengabaikan rakyat kecil yang mati kelaparan, kehausan, miskin dan menderita”.
Romero ‘bermain’ politik dengan mengedepankan kepedulian dan keprihatinan politisnya demi manusia yang sedang ditimpa kemelaratan karena kuasa politik yang melulu negatif. Game politik yang mematikan .***
Penulis menyelesaikan studi di Universitas san Giovanni Laterano, Roma, Italia. Eks Staf pengajar pada Instituto de Ciências Religiosas são Tómas de Aquino Lahane, Dili. Tinggal di Culu Hun, Dili.











Discussion about this post